Pages

Kamis, 08 Desember 2011

Beberapa Mitos dan Kesalah-Pahaman Tentang HIV / Aids

Beberapa Mitos dan Kesalah-Pahaman Tentang HIV / Aids - Saya yakin banyak di antara masyarakat yang tidak mengerti sepenuhnya tentang penyakit HIV / Aids sehingga turut terpengaruh oleh beberapa kesalah-pahaman atau mitos menyangkut penyebaran HIV/Aids. Dalam berita akhir-akhir ini saya juga sempat membaca seorang anak yang tidak teinfeksi HIV harus ditolak pihak sekolah dan wali murid hanya karena bapaknya positif menderita HIV. Walaupun penyakit HIV/Aids ini adalah penyakit yang mematikan yang belum ada obatnya, perlu bagi kita untuk mengetahui informasinya dengan benar.

Di antara mitos, atau informasi yang salah tentang HIV/Aids adalah sebagai berikut :

* HIV bisa tertular akibat berada dekat dengan penderita, bergaul, berjabat tangan, berpegangan, berpelukan, dsb.

Faktanya : HIV hanya bisa tertular melalui kontak dengan cairan tubuh seorang penderita positif HIV/Aids yang kemudian masuk ke tubuh orang normal, baik melalui darah, cairan kelamin ketika berhubungan seksual, dan ASI. Bergaul, menghirup udara di dekat penderita, berjabat tangan, berpegangan, berpelukan dengan penderita sama sekali tak akan membuat virus HIV bisa berpindah. Gigitan nyamuk yang pernah hinggap di penderita HIV pun juga tak akan membawa virus tersebut. Memakai alat makan bersama atau berbagi toilet dengan penderita juga tak akan membuat seseorang terinfeksi HIV/Aids. Beraktivitas bersama memakai alat-alat olahraga sehingga ada kemungkinan terkena keringat penderita juga tak akan membuat seseorang terkena HIV. Air mata pun juga tak akan memindahkan virus HIV.

* Berciuman dengan penderita membuat seseorang terinfeksi HIV.

Faktanya : Belum ada kasus seseorang menderita HIV/Aids akibat berciuman. Berciuman biasa bukanlah termasuk hal yang dilarang dalam aturan petunjuk lembaga kesehatan dalam mencegah penyebaran HIV/Aids. Akan tetapi ada rekomendasi untuk tidak melakukan french kissing (berciuman dengan mulut terbuka) karena kemungkinan terekspos dengan darah dari bagian dalam mulut yang terluka.

* Oral seks, anal seks aman, dan bebas dari resiko terinfeksi HIV/Aids

Faktanya : seseorang bisa terinfeksi HIV akibat oral seks (seks dengan mulut), apalagi dengan anal seks (seks melalui dubur) dengan seorang penderita HIV/Aids. Oral seks dengan kondom dianjurkan bagi orang-orang yang terlibat dalam aktivitas berisiko.

* Seseorang terlihat sangat sehat sehingga tak mungkin ia adalah seorang penderita HIV.

Faktanya : seseorang bisa terinfeksi HIV tapi tetap sehat dan segar bugar hingga sampai belasan tahun, akan tetapi dalam masa itu ia tetap bisa menularkan HIV/Aids kepada orang lain melalui hubungan seksual, berbagi jarum suntik (termasuk untuk tato, dan alat yang melukai tubuh lain), pemberian ASI, dsb. Satu-satunya cara untuk memastikan seseorang terinfeksi HIV adalah dengan tes darah.

* Anak yang terlahir dari seorang ibu penderita HIV pasti juga terinfeksi HIV

Faktanya : seorang ibu yang positif HIV bisa memiliki bayi yang bebas dari HIV. Akan tetapi resiko tertularnya bayi dari ibu yang besar (sekitar 25%) bisa diturunkan menjadi hanya sekitar 2% jika ibu mendapat perawatan tepat dan pengobatan obat antiretroviral selama kehamilan sampai ketika melahirkan. Anak yang baru lahir juga bisa diberikan obat antiretroviral. Bedah cesar juga bisa menjadi pilihan ibu yang positif HIV ketika melahirkan anaknya. Bayi yang dilahirkan juga tidak boleh disusui ibu penderita HIV, tapi menggantinya dengan susu formula atau disusukan oleh orang lain.

* Hidupku berakhir ketika terdeteksi HIV positif

Faktanya : seorang penderita HIV positif bisa hidup normal sampai belasan tahun, dan ada yang tetap hidup hingga sekitar 20 puluh tahun. Ini terkait dengan program perawatan yang ia terima antara lain melalui terapi obat antiretroviral yang lebih dini, pola hidup sehat, dan pengobatan tepat terhadap penyakit lain yang muncul.

* Penderita yang sedang menjalani terapi dengan obat anti retroviral tak bisa menularkan HIV ke orang lain.

Faktanya : obat anti retroviral hanya akan menurunkan jumlah virus di dalam tubuh penderita sampai ke level yang susah untuk dideteksi (akibatnya bisa hidup sehat lebih lama), akan tetapi ia masih bisa menularkan virus HIV kepada orang lain.

* Tes HIV tak ada gunanya.

Faktanya : dengan melakukan tes darah untuk memastikan seseorang yang berisiko terkena HIV atau tidak, ia akan bisa mendapatkan perawatan dini dan hidup lebih lama jika terbukti positif HIV. Ia pun bisa terhindar dari menularkan penyakitnya kepada orang lain, apalagi pada orang-orang yang dicintai seperti pasangan hidup dan anak, dengan mengetahui metode-metode pencegahan yang tepat.



http://horizonwatcher.blogdetik.com/2011/10/23/pornografi-internet-menghilangkan-kemampuan-gairah-seksual-pria-terhadap-pasangan/

0 komentar:

Poskan Komentar